1Faras Tri Handoko
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahi wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasuulillah, wa ‘alaa aalihi wa sohbihi wa man waalah.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Zaman telah berubah. Dahulu, kita diingatkan dengan pepatah “Mulutmu harimaumu”. Namun di era digital saat ini, pepatah itu mungkin perlu ditambah menjadi “Jempolmu harimaumu”.
Perundungan atau bullying tidak lagi hanya terjadi di lorong-lorong sekolah atau lapangan bermain, tetapi telah berpindah ke layar ponsel kita dalam bentuk cyberbullying. Mencaci di kolom komentar, menyebarkan fitnah di media sosial, hingga mengucilkan seseorang di grup WhatsApp telah menjadi hal yang dianggap biasa. Padahal, dalam Islam, perbuatan ini adalah dosa yang sangat serius.
Mengapa kita harus menjauhi perilaku membuli di dunia maya?
1. Luka Lisan Digital Lebih Abadi
Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari. Namun, luka akibat kata-kata jahat di media sosial seringkali membekas seumur hidup. Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ…
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”
Dalam ayat ini, Allah melarang kita merendahkan orang lain. Di dunia digital, jejak digital itu abadi. Sekali kita mengetik kata hinaan, ribuan orang bisa melihatnya, dan itu menjadi dosa jariyah yang terus mengalir selama tulisan itu ada dan menyakiti hati korbannya.
2. Setiap Ketikan Dicatat oleh Malaikat
Banyak orang merasa berani membuli karena merasa anonim atau menggunakan akun palsu. Mereka merasa tidak ada yang melihat. Namun bagi seorang mukmin, tidak ada istilah “anonim” di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Setiap komentar nyinyir, setiap share berita hoaks yang menjatuhkan martabat orang lain, dan setiap hujatan di media sosial akan dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan Allah yang Maha Adil.
3. Bahaya Menjadi Orang yang “Bangkrut” (Muflis)
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada sahabat, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Sahabat menjawab orang yang tidak punya uang. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah yang datang hari kiamat dengan pahala shalat dan puasa yang banyak, namun ia pernah mencela orang ini, menfitnah orang itu, dan menyakiti orang lain.
Membuli di era digital adalah cara tercepat untuk menjadi “bangkrut”. Pahala kita akan ditransfer kepada orang yang kita buli di media sosial sebagai ganti atas rasa sakit yang mereka rasakan.

